Jumat, 19 Februari 2010
Masa Mudamu Mempengaruhi Masa Tuamu
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Ingatlah, penjagaanmu terhadap hak Allah di masa mudamu bisa mempengaruhi masa tuamu! Kita dapat menyaksikannya dalam pelajaran hadits berikut.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma-,
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”[1]
Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah). Orang yang melakukan seperti ini, merekalah yang menjaga diri dari batasan-batasan Allah sebagaimana yang Allah puji dalam kitab-Nya,
هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢)مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (٣٣)
“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qaaf: 32-33). Yang dimaksud dengan menjaga di sini adalah menjaga setiap perintah Allah dan menjaga diri dari berbagai dosa serta bertaubat darinya.[2]
Menjaga Hak Allah
Di antara bentuk penjagaan hak Allah sebagai berikut.
Pertama: Menjaga shalat
Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib sebagaimana yang Allah firmankan,
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ (٢٣٨)
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar)[3]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS. Al Baqarah: 238). Yang dimaksud shalat wustho di sini adalah shalat Ashar menurut kebanyakan ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan keras orang yang meninggalkan shalat Ashar sebagaimana dalam sabdanya,
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka hapuslah amalannya.”[4]
Allah Ta’ala pun memuji orang-orang yang menjaga shalatnya dalam ayat lainnya,
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al Ma’arij: 34)
Begitu pula termasuk dalam hal ini adalah dengan menjaga thoharoh (bersuci) karena thoharoh adalah pembuka shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ
“Tidak ada yang selalu menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.”[5]
Kedua: Menjaga kepala dan perut
Begitu pula kita diperintahkan untuk menjaga kepala dan perut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى
“Sifat malu pada Allah yang sebenarnya adalah engkau menjaga kepalamu dan setiap yang ada di sekitarnya, begitu pula engkau menjaga perutmu serta apa yang ada di dalamnya.”[6] Yang dimaksud menjaga kepala dan setiap apa yang ada di sekitarnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Sedangkan yang dimaksud menjaga perut dan segala apa yang ada di dalamnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga hati dari terjerumus dalam yang haram.[7] Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ
“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 235)
Allah Ta’ala juga berfirman,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro’: 36)
Ketiga: Menjaga lisan
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يَضْمَنْ لِى مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang menjamin padaku apa yang ada di antara dua janggutnya (yaitu bibirnya) dan antara dua kakinya (yaitu kemaluan), maka ia akan masuk surga.”[8]
Keempat: Menjaga kemaluan
Allah memuji orang-orang yang menjaga kemaluan dalam beberapa ayat. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".” (QS. An Nur: 30)
وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6)
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS. Al Mu’minun: 5-6)[9]
Yang lebih penting dari hal di atas dan merupakan hak Allah yang paling utama untuk dijaga adalah mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya (baca: berbuat syirik). Karena syirik adalah kezholiman yang teramat besar. Luqman pernah berkata pada anaknya,
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezholiman yang paling besar.” (QS. Luqman: 13)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membonceng Mu’adz dengan keledai -yang bernama ‘Ufair-, beliau bersabda,
« يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ » . قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا »
“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba-Nya dan apa hak hamba yang berhak ia dapat dari Allah?” Mu’adz mengatakan, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba adalah mereka harus menyembah Allah dan tidak boleh berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba yang berhak ia dapat adalah Allahh tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apa pun.”[10] Inilah hak Allah yang mesti dan wajib ditunaikan oleh setiap hamba sebelum hak-hak lainnya.
Siapa yang Menjaga Hak Allah, maka Allah akan Menjaganya
Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan penjagaan dari Allah Ta’ala.
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”
Inilah yang dimaksud al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan sesuai dengan amal perbuatan. Sebagaimana Allah mengatakan dalam ayat-ayat lainnya.
وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ
“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 40)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 152)
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS. Muhammad: 7)
Bentuk Penjagaan Allah
Jika seseorang menjaga hak-hak Allah sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka Allah pun akan selalu menjaganya. Bentuk penjagaan Allah ada dua macam, yaitu:
Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.
[Penjagaan melalui Malaikat Allah]
Di antara bentuk penjagaan Allah adalah ia akan selalu mendapatkan penjagaan dari malaikat Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar Ro’du: 11). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Setiap hamba memiliki malaikat yang selalu menemaninya. Malaikat tersebut akan menjaganya siang dan malam. Mereka akan menjaganya danri berbagai kejelekan dan kejadian-kejadian.”[11] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Mereka adalah para malaikat yang akan selalu menjaganya atas perintah Allah. Jika datang ajal barulah malaikat-malaikat tadi meninggalkannya.” Inilah salah bentuk penjagaan Allah melalui para malaikat bagi orang yang selalu menjaga hak-hak Allah.
[Penjagaan di Kala Usia Senja]
Begitu pula Allah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allah di waktu mudanya. Allah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan dan kecerdasannya. Inilah maksud yang kami singgung dalam judul artikel ini.
Sebagaimana kami pernah membaca dalam salah satu buku fiqh madzhab Syafi’i, matan Abi Syuja’. Dalam buku tersebut diceritakan mengenai penulis matan yaitu Al Qodhi Abu Syuja’ (Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Asy Syafi’i rahimahullah Ta’ala). Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang mati di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan. Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidakk punya tips khusus untuk rutin olahraga atau yang lainnya. Namun perhatikan apa tips beliau, “Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada Allah di waktu mudaku, maka Allah pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.” Cobalah lihat, beliau bukanlah memberikan kita tips untuk banyak olahraga. Namun apa tips beliau? Yaitu taat pada Allah dan menjauhi segala maksiat di waktu muda.[12]
Ibnu Rajab rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan bagaimana dengan keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu? Diceritakan bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan, “Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.” Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang tersebut, “Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.”[13]
[Penjagaan pada keturunan]
Begitu pula Allah akan menjaga keturunan orang-orang sholih dan selalu taat pada Allah. Di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan Allah karena ayahnya adalah orang yang sholih. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al Kahfi: 82). ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan, “Barangsiapa seorang mukmin itu mati (artinya: ia selalu menjaga hak Allah, pen), maka Allah akan senantiasa menjaga keturunan-keturunannya.”
Sa’id bin Al Musayyib mengatakan pada anaknya, “Wahai anakku, aku selalu memperbanyak shalatku dengan tujuan supaya Allah selalu menjagamu.”[14]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barangsiapa menjaga (hak-hak) Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan.” Sebagian salaf mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.”
Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Jika aku bermaksiat pada Allah, maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan tungganganku.”[15]
Penjagaan kedua: Penjagaan yang lebih dari penjagaan pertama, yaitu Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga dirinya dari pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan. Inilah penjagaan yang lebih luar biasa dari penjagaan pertama tadi.
Hal ini dapat kita lihat sebagaimana dalam do’a sebelum tidur yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِى وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِى فَاغْفِرْ لَهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
“Dengan menyebut nama-Mu, aku meletakkan lambungku, dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya. Jika engkau ingin menarik jiwaku, maka ampunilah ia. Jika engkau ingin membiarkannya, maka jagalah ia sebagaimana engkau menjaga hamba-hambaMu yang sholih”[16] Dalam do’a ini terlihat bahwa Allah akan senantiasa menjaga orang-orang yang sholih.[17]
Demikian pembahasan yang singkat dari hadits di atas. Semoga hadits ini bisa selalu menjadi pengingat dalam setiap langkah kita. Jagalah hak Allah, niscaya Allah akan menjagamu.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Diselesaikan di Boyolali (Jawa Tengah), 30 Shofar 1431 H (bertepatan dengan 14 Februari 2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
[1] HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[2] Lihat Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 223, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[3] Yang dimaksud shalat wusthaa terdapat lima pendapat. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah shalat Ashar. Ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah shalat Shubuh, Zhuhur, Maghrib atau Isya (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 1/241, Mawqi’ At Tafaasir).
Namun kebanyakan ulama mengatakan bahwa yang dimaksud shalat wustha adalah shalat Ashar sebagaimana banyak yang meriwayatkan hal ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang memilih pendapat ini adalah ‘Ali, Abdullah bin Mas’ud, Abu Ayyub, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibrahim An Nakhoi, Qotadah dan Al Hasan (Lihat Ma’alimut Tanzil, Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, 1/288, Dar Thoyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H)
[4] HR. Bukhari no. 553, dari Buraidah.
[5] HR. Ibnu Majah no. 277, dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[6] HR.. Tirmidzi no. 2458, dari Abdullah bin Mas’ud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[7] Demikian penjelasan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 224.
[8] HR. Bukhari no. 6474, dari Sahl bin Sa’ad.
[9] Lihat Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal. 223-224.
[10] HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30.
[11] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/114, Muassasah Qurthubah.
[12] Demikian cerita yang kami peroleh dengan sedikit perubahan redaksi dari kitab Matan Al Ghoyah wat Taqrib, yang memberikan syarh terhadap Matan Abi Syuja’ (Ikhtishorul Ghoyah).
[13] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 225.
[14] Idem.
[15] Lihat Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal. 225-226.
[16] HR. Bukhari no. 7393 dan Muslim no. 2714.
[17] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 226.
sumber http://rumaysho.com
Selasa, 09 Februari 2010
Keutamaan Menuntut Ilmu Agama
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” [1]
Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu agama dan keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya, sehingga Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush Shalihin [2], pada pembahasan “Keutamaan Ilmu” mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama.
Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu.” [3]
Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.” [4]
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini adalah:
1. Ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah ilmu agama. [5]
2. Salah satu ciri utama orang yang akan mendapatkan taufik dan kebaikan dari Allah Ta’ala adalah dengan orang tersebut berusaha mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam. [6]
3. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala. [7]
4. Yang dimaksud dengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah merupakan ciri kebaikan. [8]
5. Memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar merupakan penuntun bagi manusia untuk mencapai derajat takwa kepada Allah Ta’ala. [9]
6. Pemahaman yang benar tentang agama Islam hanyalah bersumber dari Allah semata, oleh karena itu hendaknya seorang muslim disamping giat menuntut ilmu, selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dianugerahkan pemahaman yang benar dalam agama. [10]
***
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
Artikel www.muslim.or.id
Footnote:
[1] HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).
[2] 2/463- Bahjatun Naazhiriin.
[3] Syarah Shahih Muslim (7/128).
[4] Fathul Baari (1/165).
[5] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaiman dalam kitab al-Ilmu (hal. 9).
[6] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[7] Lihat kitab Fathul Baari (1/165) dan Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[8] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[9] Lihat kitab Syarah Shahih Muslim (7/128) dan Faidhul Qadiir (3/510).
[10] Lihat Bahjatun Naazhiriin (2/463).
Selasa, 19 Januari 2010
10 Hal yang Tidak Bermanfaat dan Sia-sia
Pertama: memiliki ilmu namun tidak diamalkan.
Kedua: beramal namun tidak ikhlash dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketiga: memiliki harta namun enggan untuk menginfakkan. Harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat di dunia dan juga tidak diutamakan untuk kepentingan akhirat.
Keempat: hati yang kosong dari cinta dan rindu pada Allah.
Kelima: badan yang lalai dari taat dan mengabdi pada Allah.
Keenam: cinta yang di dalamnya tidak ada ridho dari yang dicintai dan cinta yang tidak mau patuh pada perintah-Nya.
Ketujuh: waktu yang tidak diisi dengan kebaikan dan pendekatan diri pada Allah.
Kedelapan: pikiran yang selalu berputar pada hal yang tidak bermanfaat.
Kesembilan: pekerjaan yang tidak membuatmu semakin mengabdi pada Allah dan juga tidak memperbaiki urusan duniamu.
Kesepuluh: rasa takut dan rasa harap pada makhluk yang dia sendiri berada pada genggaman Allah. Makhluk tersebut tidak dapat melepaskan bahaya dan mendatangkan manfaat pada dirinya, juga tidak dapat menghidupkan dan mematikan serta tidak dapat menghidupkan yang sudah mati.
Itulah sepuluh hal yang melalaikan dan sia-sia. Di antara sepuluh hal tersebut yang paling berbahaya dan merupakan asal muasal segala macam kelalaian adalah dua hal yaitu: hati yang selalu lalai dan waktu yang tersia-siakan.
Hati yang lalai akan membuat seseorang mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga dia cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan menyia-nyiakan waktu akan membuat seseorang panjang angan-angan.
Padahal segala macam kerusakan terkumpul karena mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Sedangkan segala macam kebaikan ada karena mengikuti al huda (petunjuk) dan selalu menyiapkan diri untuk berjumpa dengan Rabb semesta alam.
Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Faedah ilmu dari Al Fawa’id, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Darul ‘Aqidah
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.com
Asli :
http://www.rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2876-10-hal-yang-tidak-bermanfaat-dan-sia-sia-.html
Jumat, 01 Januari 2010
10 keutamaan ilmu
- Ilmu adalah pusaka para nabi sedangkan harta adalah pusaka Qarun, Sada, Fir’aun
- Ilmu menjaga dirimu, sedangkan harta malah engkau yang menjaganya
- Pemilik harta musuhnya banyak, sedangkan pemilik ilmu temannya banyak
- Harta bila dibelanjakan akan berkurang, sedangkan pemilik ilmu justru malah bertambah
- Pemilik harta dipanggil dengan sifat bakhil dan cercaan, sedangkan pemilik ilmu dipanggil dengan nama keagungan dan kemuliaan
- Harta perlu dijaga dari pencuri, sedangkan ilmu tidak perlu kemuliaan
- Pemilik harta kelak diakhirat akan dihisap, sedangkan ilmu akan diberi syafa’at
- Harta akan berkarat karena lama disimpan, sedangkan ilmu tidak akan berkarat dan tidak rusak karena umur
- Harta bisa mengeraskan hati, tetapi ilmu bias menerangi hati
- Pemilik harta bisa mengaku-ngaku sebagai tuhan lantaran hartanya, sedangkan pemilik ilmu mengaku sebagai hamba
Rabu, 30 Desember 2009
10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru
Sejarah Tahun Baru Masehi
b) berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut,
c) berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin -rahimahullah- mengatakan, ”Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan agama kepada orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama.”11
Kerusakan Kelima: Melalaikan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”20
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Footnote:
1 Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru
2 Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts 'Ilmiyyah wal Ifta', 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi' Al Ifta'.
3 HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
4 HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa'id Al Khudri.
5 Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya' At Turots Al 'Arobiy, cetakan kedua, 1392.
6 HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
7 Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
8 HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
9 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/278-279, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
10 Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
11 Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/28-29, no. 404, Asy Syamilah.
12 Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
13 Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al 'Ilmiyyah.
14 HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
15 HR. Muslim no. 1163
16 HR. Bukhari no. 568
17 Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
18 HR. Muslim no. 6925
19 Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Juda’i
20 HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
21 Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
22 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
23 HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
24 Al Fawa’id, hal. 33
25 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.
Sumber :
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2844-10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru-.html
Jumat, 04 Desember 2009
Cara mengistall program arabic
- masukkan cd master windowsXP ke cdrom
- pilih start, control panel,
- pilih
- trus muncul kotak dialog berikut
klik tab Language (1)
beri tanda centang Install files for complex script and right-to-left languages (including Thai)(2)
Klik tombol Apply (3)
Trus klik tombol Detail
muncul kotak dialog Text Servis and Input Language
pilih tombol Add (1)
muncul kotak Add input language
pilih tombol panah bawah pada input language (2)
muncul sederetan nama negara pilih Arabic(
kil tombol OK
pilih tombo Apply (4)
klik tanda panah (5)
pilih Arabic
pilih OK (6)
setelah selesai coba buka microsoft word
trus ngetik
untuk pindah tulisan dari arabic ke latin tekan tombol Alt + Shift kiri
(tombol Alt ditekan dan ditahan kemudian tekan sekali (klik) tombol shift kiri 1x trus lepaskan tombol Alt)
coba ketik tulisan di word ada perbedaan nggak (maksudnya huruf arabnya muncul apa tidak)
kalau tidak muncul coba pakai penekanan tombol Alt + shift kanan.
Atau bisa juga pakai tanda windows task bar biasanya ada pilihan languge AR, EN jika huruf AR muncul berarti pengetikan mode arab aktif tapi jika huruf EN yang muncul berarti mode latin yang aktif untuk merubahnya tinggal klik huruf itu kemudian pilih yang di kehendaki AR atau EN.
Pedoman untuk letak-letak hurufnya bisa dilihat pada program on screen keyboard
Cara bukanya
Pilih tombol start, All Programs, Accessories, Accesibility, on-screen keyboard
Untuk pindah bahasa sama pakai tombol Alt + shift
Kamis, 03 Desember 2009
Nasehat Luqman Hakim kepada anaknya
(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui."
QS Luqman : 12-19
Rabu, 02 Desember 2009
Meminang Bidadari
...
Di lembah tersebut, rasa rindu bergemuruh
Sang kekasih melihat bahwa kerinduan ini mendapat kemenangan
(Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam kitab Tamasya ke Syurga)
Merindukan Istri Tercinta
“Adakah di antara kalian yang merindukan syurga? Karena syurga tidak bisa dibayangkan. Syurga, demi Allah, adalah cahaya yang kemilau. Ia adalah aroma yang semerbak. Ia adalah istana megah. Ia adalah buah-buahan yang ranum. Ia adalah sungai yang mengalir. Ia adalah istri yang menawan lagi mempesona. Ia adalah perhiasan yang banyak. Di tempat yang abadi dan negeri yang aman. Ia adalah buah-buahan, sayur-sayuran, dan kemolekan di tempat yang tinggi dan nikmat.”
Rasulullah saw pada hadits ini memprovokasi dan memotivasi para sahabat dengan kenikmatan-kenikmatan syurga. Beliau saw menggunakan kalimat-kalimat yang memesona hati, menggelitik keinginan dan menggugah iradah (kemauan) para sahabat sehingga kerinduan mereka pada syurga memuncak dan memadati seluruh relung jiwa mereka.
Allah swt pun telah menggambarkan kenikmatan dan keindahan yang begitu menghebohkan itu. Dia memberi gambaran dengan cara memadukan kenikmatan fisik alam bentuk keindahan syurga dan segala isinya dengan kebahagiaan jiwa. Dimana Allah menghadirkan dalam bentuk istri-istri yang suci. Lebih dari itu, Allah melukiskan keindahan dan kecantikanm bidadari-bidadari secara DETAIL DAN SEMPURNA.
”Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik”(QS Ar Rahmaan 70). Ini gambaran yang jelas tentang bidadari. Mereka adalah makhluk yang cantik dan bagus akhlaqnya. Mereka bukanlah makhluk yang sombong dengan kecantikannya. Tidak pernah berselingkuh dengan makhluq lain. Mereka tidak memanfaatkan kecantikannya untuk perbuatan nista, sebagaimana yang terjadi pada sebagian kecil wanita di dunia.
Mereka mengabdikan diri hanya bagi suami mereka kelak, para raja di syurga kelak. Sebab semua penghuni syurga adalah raja. Para bidadari senantiasa menundukkan pandangan kecuali kepada suami mereka, ”Di dalam syurga ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangan mereka...” (QS Ar Rahman 56).
Bidadari adalah makhluq yang suci yang dipingit di kemah-kemah syurga yang terbuat dari mutiara lu’lu. ”(bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit di dalam kemah.” (QS Ar Rahman 72).
Mereka terfokus hanya kepada suami mereka dan tidak tertarik kepada lelaki lain. Mereka hanya memberikan cinta dan hatinya kepada suami mereka. Lebih dari itu, mereka adalah mekhluk yang belum pernah sekalipun disentuh oleh manusia atau jin. Allah swt berfirman, ”Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS Ar Rahman 56).
Adalah sebuah penegasan kepuasan terhadap suami-suami mereka. Jujur, bahwa kepuasan seorang lelaki terhadap seorang perempuan yang tidak pernah disentuh oleh siapapun, jelas memberikan makna yang terdalam baginya. Begitu juga bagi perempuan tersebut, itulah kepuasan yang paling nyata dalam cinta.
”Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan..” (QS Waqiah 35-38)
Siapa yang tidak tertarik dengan ayat-ayat yang menggoda hati ini? Pastinya hanya orang yang tertutup telinga dan buta mata hatinya. Bayangkan! Allah memilih kalimat-kalimat yanmg lugas dan jelas sebagaiu pemikat manusia agar ia memilih jalan kanan.
Perawan, kaya cinta, dan sebaya umurnya!
Para ahli tafsir mengartikan ‘urubu (bentuk tunggal dari ‘uruban) dengan wanita yang sangat mencintai suaminya, sayang kepadanya, manja kepadanya, selalu bersolek dan bergaya kepadanya, membuat suaminya cinta kepadanya, membuat nafsu syahwat suami bergejolak kepadanya, dan membuat suaminya merapikan diri untuknya.
Singkat kata, sebagaimana ucapan Imam Bukhari dalam Shahih-nya, ‘uruban adalah yang membuat suaminya betah di rumah.
Ck..ck..ck.. subhanallah walhamdulillah
Bergegas meminang bidadari
Epilog
Wahai yang memanggil dan mencari bidadari
Persiapkanlah maskawin selagi engkau mampu untuk itu
Harapkan keindahan an kecantikannya yang memikat
Hampirilah sang kekasih, jangan kau terlambat...
(Bait syair dalam kitab Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah)
Jadi, sudah siapkah dirimu meminang bidadari ?
taken from Al Izzah No. 11/Th.4/1-31 januari 2005
sumber : FB catatan Gus Nuk
Senin, 30 November 2009
Menunggu Ajal Menjemput
Manusia hidup di dunia ini tidak selamanya. Umur sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Kita tak ubahnya seperti mereka sedang antri menunggu ajal menjemput. Kita tidak tahu berapakah sisa umur kita. berapa tahun? berapa bulan? berapa minggu?, berapa hari?, berapa jam?, berapa menit? atau bahkan tinggal berapa detik. Saya juga tidak tahu masih barapakah sisa umur saya. Para pembaca juga tidak tahu masih berapakah sisa umur anda. itu semua adalah rahasia Ilahi Rabbi. yang jelas ALlah berfirman bahwa jika maut itu datang kita tidak bisa lari kemanapun. kemanapun kita lari maka ajal pasti akan menjemput jika waktu sudah ditentukan.
Kita hidup di dunia tak ubahnya sedang mengantri menunggu kedatangan Al Maut, yang pasti akan datang menjemput kita. Hanya kedatangan mereka masih misteri kapan dan dimana itu semua rahasia, hanya Allah-lah yang tahu. Bedanya manusia dengan mahluk lain adalah jika manusia mati urusan tidak selesai begitu saja. tapi masih berlanjut. Manusia masih harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah. Semua amal perbuatan yang sudah kita kerjakan akan di tampakkan kepada kita semua dan akan kita akan dimintai pertanggung jawaban. sudah siapkah kita?
Ajal menjemput kita tidak menunggu persiapan dari kita. Siap belum siap kita harus siap. kita senantiasa dituntut untuk mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan al maut yang datangnya tidak disangka-sangka. kita harus senantiasa mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyambut kedatangan al maut. Bekal yang kita butuhkan adalah amal kebaikan yang sudah dituntunkan oleh Allah melalui Nabi dan Rasul berpedoman kepada wahyu dari-Nya.
Kita adalah manusia yang diberi akal oleh ALlah, jika kita tahu umur kita tinggal berapa mungkin kita bisa mengkhususkan diri untuk persiapan menyambut kedatangannya. kedatangan ajal yang masih rahasia ini menuntut kita untuk senantiasa menjaga ketaatan kita kepada ALlah. Sehingga kita bisa menjemputnya dalam suasana ketaatan. seperti pesan ALlah SWT dalam QS AL Imron : 102
wa Allahu a'lam.
Sabtu, 21 November 2009
KIAMAT TAHUN 2012?
Dari manakah datangnya berita itu?
Awal mulanya bagaimana kok bisa muncul berita seperti itu?
Benarkah hal itu akan betul-betul terjadi?
Terus bagaimana kalau kiamat itu benar-benar terjadi?
Banyak pertanyaan yang muncul di seputar ramalan hari kiamat tahun 2012.
Tapi bukan hal yang tidak mungkin kiamat itu benar-benar terjadi pada tahun 2012. bahkan bisa juga maju yaitu terjadi sebelum 2012 ,tapi bisa juga mundur, maksudnya terjadi sesudah tahun 2012. itu semuanya tergantung ketetapan dari yang maha menentukan yaitu Allah.
Tanda-tanda hari kiamat sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Dalam sabda-sabda beliau. Kita sebagai umat Islam yakin bahwa kiamat benar-benar akan terjadi. Tanda-tanda akan datangnya hari kiamat sudah jelas. Jika tanda-tanda belum lengkap kiamat tidak akan terjadi. Tapi kiamat pasti akan terjadi.
Walaupun tanda-tanda hari kiamat sudah dijelaskan, tapi namanya manusia masih juga dibuat penasaran dengan ramalan akan datangnya hari kiamat pada tahun 2012. Ada yang takut menghadapinya, ada yang penasaran, ada yang trauma karena pernah mengalami bencana sebelumnya seperti tsunami, gempa bumi dll. Baru bencana alam saja sudah seperti itu keadaanya apalagi kalau kiamat beneran. Rumah-rumah bagus hancur, harta benda berserakahan tidak terurus, mobil-mobil mengkilat berserakan ditinggal pemiliknya, bangkai manusia dan binatang berserakan, ngeri melihatnya.
Rupanya rasa penasaran akan datangnya hari kiamat tahun 2012 terbaca oleh produser film, maka dibuatlah film kiamat 2012. entah dari mana mereka tahu gambaran suasana hari kiamat kok bisa-bisanya dia menggambarkannya dan memfilemkannya. Tapi memang karena rasa penasarannya besar, maka begitu film diluncurkan langsung laris.
Kita sebagai muslim yakin bahwa hari kiamat pasti datang, kedatangan hari kiamat sudah jelas tanda-tandanya, jika tanda-tanda kedatangan hari kiamat belum lengkap maka hari kiamat tidak akan terjadi. Yang jadi pertanyaan kita sudahkah kita mempersiapkan diri dengan akan datangnya hari kiamat tersebut? Sudah siapkah kita mempertanggung jawabkan amal-amal kita di hadapan Allah? Sudah siapkah kita menjawab beberapa pertanyaan yang akan dilontarkan kepada kita : Umurmu kau habiskan untuk apa?, hartamu engkau dapat dari mana? dan kau habiskan untuk apa? Dan masih banyak pertanyaan yang harus kita jawab dan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah. Mulai saat ini yang terpenting adalah bukan kapan hari kiamat itu datang, tapi sudah siapkah kita jika hari kiamat itu datang.
